Selasa, 23 Oktober 2012

PEMBUATAN MODEL PLTA SEBAGAI ALAT PEMBELAJARAN FISIKA

PEMBUATAN MODEL PLTA SEBAGAI ALAT PEMBELAJARAN FISIKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Fisika merupakan mata pelajaran yang kurang diminati siswa karena memiliki tingkat kesulitan pemahaman yang tinggi. Padahal Fisika merupakan ilmu dasar yang tidak boleh tidak harus dikuasai, untuk mencegah ketinggalan kita, bangsa Indonesia, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Fisika harus ditanamkan secara mendalam kepada seluruh siswa.
Salah satu upaya untuk menumbuh kembangkan minat dan simpati siswa untuk men-cintai Fisika adalah dengan membuat alat peraga / model perangkat teknologi sederhana meng-gunakan konsep Fisika. Dengan alat peraga memungkinkan guru melakukan demontrasi atau peragaan untuk konsep-konsep tertentu dalam pelajaran Fisika. Melalui demontrasi/peragaan dapat lebih memotivasi siswa untuk belajar dan menerapkan keterampilan proses.
1.2. Tujuan Pembuatan Alat Peraga
Tujuan pembuatan model/alat peraga ini adalah :
-menjadikan siswa lebih tertarik dan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran
-meningkatkan pemahaman/penguasaan materi dan kemampuan berfikir ilmiah siswa.
-memotivasi siswa agar dapat menerapkan konsep
-memotivasi siswa agar dapat merancang sejumlah model alternatif, membuat dan mengerjakan model, menguji model dan menyempurnakan model.
1.3. Dasar Penggunaan Media Pendidikan dalam Proses Belajar Mengajar
Menurut hasil penelitian di bidang psikologi belajar seperti yang dilaporkan Direktorat Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1991) menunjukkan bahwa hasil belajar manusia adalah :
1 % dari indera perasa (testa)
1,5 % dari indera peraba (touch)
3,5 % dari indera pencium (smell)
11 % dari indera pendengar (hearing)
83 % dari indera penglihatan (sight)
Sedangkan kemampuan manusia untuk mengingat adalah :
20 % dari yang dibacanya
30 % dari yang didengarnya
40 % dari yang dilihatnya
50 % dari yang dilihat dan didengarnya
60 % dari yang dikatakannya
90 % dari yang dikatakan dan dikerjakannya
Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa perpaduan aspek verbal dan visual dalam suatu proses belajar mengajar memungkinkan seseorang menunjukkan kemampuan mengingat yang relatif tinggi. Dalam hubungannya dengan usaha peningkatan mutu pendidikan, penggunaan media pendidikan ini tampaknya mutlak dilaksanakan baik oleh guru maupun para pengelola pendidikan lainnya.
Dalam pembuatan model/miniatur untuk suatu proses, mula-mula barangkali sulit, tetapi tantangan menemukan bagaimana melakukan hal itu akan menghasilkan wawasan yang mendalam dan memori jangka panjang. Konfusius berkata : “Saya dengar dan saya lupa. Saya melihat dan saya mengetahui. Saya melakukan dan saya ingat. ”
Semakin banyak siswa dapat melihat, mendengar, mengatakan dan melakukan sesuatu, semakin mudah sesuatu dipelajari.
1.4. Pengertian Media Pendidikan dan Alat Peraga
Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ’tengah’, ’perantara’, atau ’pengantar’. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan utnuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming (1987 : 234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator, media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar, yaitu siswa dan isi pelajaran. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. (Arsyad, 2003 : 3)
Sedangkan Alat Peraga oleh Ditsardik Depdikbud (1980) diartikan sebagai “ Alat yang dapat dipertunjukkan/diragakan dalam KBM dan berfungsi sebagai pembantu untuk memperjelas suatu konsep ide atau pengertian contoh benda.”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Depdikbud, Balai Pustaka, 1995, mengartikan Model sebagai “barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) persis seperti yang ditiru.”
1.5. Fungsi Media
Levie & Lentz mengemukakan empat fungsi media pengajaran, khususnya media visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.
Fungsi atensi media merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk ber-konsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.
Fungsi kognitif media visual yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
Fungsi kompensatoris media pengajaran memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal. (Arsyad, 2003 : 16)
1.6. Manfaat Media
Manfaat media menurut Kemp & Dayton, yaitu sebagai berikut :
1.Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelajar yang melihat atau mendengarpenyajian melalui media menerima pesan yang sama.
2.Pengajaran bisa lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian danmembuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan
3.Pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4.Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat.
5.Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan.
6.Pengajaran dapat diberikan kapan dan dimana diinginkan atau diperlukan.
7.Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8.Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. Beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan. (Arsyad, 2003 : 22)
1.7. Kriteria Pemilihan Media
Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Untuk itu ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media, yaitu :
1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi. Agar dapat membantu proses pembelajaran secara afektif, media harus selaras dan sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa.
3. Praktis, luwes, dan bertahan. Kriteria ini menuntun para guru/instruktur untuk memilih media yang ada, mudah diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimana pun dan kapan pun dengan peralatan yang tersedia disekitarnya, serta mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.
4. Guru terampil menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria utama. Apa pun media itu, guru harus mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran.
5. Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil, dan perorangan.
6. Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu. Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang. (Arsyad, 2003 : 72)
BAB II
PEMBUATAN ALAT
2.1. Pembuatan Alat
Sebagai contoh model/alat peraga teknologi sederhana adalah miniatur PLTA .
Model PLTA ini adalah aplikasi konsep induksi magnetik.
2.2. Alat dan Bahan yang dibutuhkan
-Papan rangkaian
-Kincir kayu dengan karet penghubung
-Model kincir air dengan engkol pemutar
-Bola lampu 2,5 V sebagai indicator
-Model generator listrik
-Model rumah
-Kabel secukupnya
-Pompa air akuarium
2.3. Prosedur Pembuatan
Rangkaian disusun seperti pada gambar di bawah ini :

Keterangan Gambar :
Model kincir dianalogikan sebagai turbin air
Model generator dimanfaatkan untuk membangkitkan arus
Motor listrik dianalogikan sebagai mesin diesel pada PLTD
Bola lampu digunakan sebagai indikator.
2.4. Foto Rangkaian Alat


2.5. Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam pelaksanaannya pembuatan model/alat peraga teknologi sederhana ini diintegrasikan sesuai dengan pokok bahasan yang sedang diberikan.
Model/alat peraga teknologi sederhana yang dibuat di kelas ini hanyalah sebagai contoh aplikasi konsep Fisika yang masih perlu dikembangkan.
Kegiatan siswa diterapkan dengan titik tolak pada bagaimana menyediakan kegiatan pembelajaran dengan memperlakukan siswa sebagai ahli teknologi muda. Karena itu, kegiatan teknologi dicirikan dengan memberi peluang siswa untuk berfikir alternatif sehingga diperoleh temuan aneka solusi, merancang model pemecahan , menyempurnakan model, mengkomunikasikan karya temuan. Untuk keperluan ini, strategi kegiatan pemecahan masalah ditentukan oleh siswa sendiri.
Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini :
1.Sedapat mungkin model/alat peraga ini di buat oleh siswa secara berkelompok.
2.Agar waktu menjadi efisien, diusahakan kegiatan di kelas hanya merakit alat/bahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
3.Sebelum melakukan kegiatan, guru menjelaskan konsep/sub konsep yang diaplikasikan.
4.Selama kegiatan berlangsung , siswa berpedoman kepada petunjuk pembuatan (dapat juga sekaligus melakukan penelitian proses). Sedangkan guru membantu dan membimbing kelompok yang mengalami hambatan serta bertindak sebagai motivator.
5.Setelah selesai merangkai model/alat peraga, tiap kelompok di beri kesempatan untuk mem-perlihatkan unjuk kerja alat/model yang dibuat oleh kelompoknya masing-masing.
6.Pada akhir kegiatan, guru menekankan kembali konsep/sub konsep yang digunakan dalam model/alat peraga.
2.6. Penilaian
Penilaian Fisika dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti tes perbuatan, tes tertulis, penugasan (proyek), portofolio, ataupun hasil kerja (produk). Dengan demikian, lingkup penilaian Fisika dapat dilakukan baik pada hasil belajar (akhir kegiatan) maupun pada proses pembelajaran. Hasil penilaian dapat diwujudkan dalam bentuk nilai dengan ukuran kuantitatif maupun dalam bentuk komentar deskriptif kualitatif
BAB III
KESIMPULAN
Kegiatan Pembuatan Model Pembangkit Listrik Tenaga Air sebagai Alat Peraga dalam Proses Belajar Mengajar Fisika berfungsi untuk :
1.Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah yang diawali dengan kemampuan mengenali masalah dan berlanjut dengan kemampuan berfikir alternatif, menerangkan konsep, merancang model, membuat model, menguji model, dan merencanakan model.
2.Mengembangkan kemampuan siswa berfikir dan bertindak kreatif.
3.Meningkatkan motivasi /gairah belajar siswa dan sifat ingin tahu.
4.Memperjelas informasi dalam proses belajar mengajar
5.Meningkatkan efektivitas penyampaian.
6.Memberi informasi tambahan yaitu melengkapi atau memperkaya informasi yang diberikan guru.
7.Menjadikan pendidikan lebih produktif karena media pengajaran dapat memberikan pengalaman yang tidak dapat diberikan guru dan membuka cakrawala pengetahuan yang lebih luas.
8.Menambah pengertian nyata tentang suatu pengertian atau pengetahuan.
9.Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa.
10.Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
11.Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar.
12.Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
13.Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang)
KEPUSTAKAAN
Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran,. Jakarta : Raja Grafindo Persada di-
posting oleh m_win_afgani di http://muhammad-win-gani.blogspot.com/2008/02/
mediapembelajaran.html)
————–,Media Pembelajaran ; diposting oleh Wijaya Kusumah di http:// wijayalabs.blogspot.com/ 2007/ 11/ media-pembelajaran.html.
Hilman, Asep ; Penggunaan Media Pendidikan dalam PBM ; Kelompok KORPRI Direktorat Pendidikan Menengah Umum ; 1992.
Karhami, S. Karim A. ; Panduan Pembelajaran Fisika SLTP ; Jakarta ; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ; 1998.
————– , Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Fisika SMA & MA ; Badan Standar Nasional Pendidikan ; Jakarta ; 2006 .
—oOo—
Galeri Foto


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar